PANDUAN TEKNIS MENDAKI GUNUNG
PENDAHULUAN.
Mendaki gunung merupakan sebuah kegiatan yang beresiko dan banyak menguras stamina. Namun hal itu tudak menyurutkan niat pecinta alam untuk melakoninya. Terbukti bahwa sekarang ini semakin marak kegiatan pendakian. Yang lebih lagi kegiatan ini tidak hanya dilakukan oleh para pecinta alam saja, bahkan masyarakat umum, berbagai organisasi maupun instannsi – instansi ikut andil.
Perlu diperhatikan bahwa setiap kelompok pecinta alam selalu mempersiapkan setiap anggota mereka dengan berbagai ilmu dan teknik – teknik dasar yang diperlukan oleh seorang pendaki gunung. Sekarang ini teknik tersebut sangat susah didapatkan dalam bentuk tertulis ataupun buku – buku yang di diterbitkan untuk kalangan umum. Hal itu mungkin para kelompok pendaki masih merahasiakan teknik – teknik pendakian bagi non anggota. Masih banyak pendaki gunung pemula yang melakukan kegiatan pendakian tanpa berbekal pengetahuan teknik yang mendukung. Hal ini akan memperbesar resiko kecelakaan dalam melakukan kegiatan pendakian.
Dengan keadaan dan kondisi yang seperti sekarang ini, kami dari perhimpunan termotivasi untuk sedikit berbagi teknik – teknik dasar yang sedikit banyak akan berguna bagi para pemula dalam melakukan kegiatan pendakian.
PERINGATAN....!!!!
Beberapa teknik yang kami suguhkan bukan merupakan pengganti sebuah pelatihan. Tetapi merupakan sebuah sumber yang dapat menambah wawasan serta pengetahuan tentang dasar – dasar pendakian gunung.
BAB I
PERENCANAAN PENDAKIAN.
A. Persiapan pejalanan.
Pilih lokasi / tujuaan
Pemilihan lokasi dapat disesuaikan dengan tujuan diadakanya kegiatan. Apakah ingin melakukan pendakian sampai puncak atau melakukan outbond bahkan hanya sekedar berburu foto saja. Dengan adanya pemilihan lokasi ini akan memaksimalkan kegiatan tersebut berjalan sesuai dengan tujuan.
B. Pengumpulan literatur dan data
Jika tujuan sudah ditetapkan, maka literatur dan data yang perlu disiapkan adalah:
- Transportasi berikut alternatif untuk menuju lokasi tersebut, lama perjalanan maupun biaya yang harus dikeluarkan.
- Kondisi lokasi yang akan dituju mengenai keamanan, budaya setempat dan pengurusan perijinanya.
- Peta, diperlukan untuk memperkirakan lama perjalanan dan kondisi medan. Memungkinkan untuk mempersiapkan peralatan, dan kebutuhan logistik.
- Informasi mengenai peluang resiko ataupun bahaya setempat. Hal ini yang akan menjadi bahan perbandingan dalam penyiapan P3K.
C. Persiapan Peralatan.
Membahas masalah peralatan sekarang ini sudah banyak brand-brand yang meluncurkan berbagai peralatan pendakian. Namun yang kami bahas bukan masalah merk, melainkan beberapa perlengkapan yang sering dibutuhkan pada saat melakukan pendakian. Peralatan itu seperti:
Peralatan Packing
Ransel
Tas pinggang
Kantong Plastik
P3K bag
Pakaian
Jaket Gunung
Rain Coat
Sleepin Bag
Pakaian jalan
Pakaian ganti
Sarung tangan
Sepatu Boot
Sendal
Kaos kaki
Gaiters
Peralatan Survival
P3K kit
Survival kit
Peralatan Navigasi
Kompas
Altimeter
Busur derajat
Termometer
Jam tangan
Peralatan Camp
Matrass
Piring plastik
Gelas plastik
Sendok dan garpu
Botol minuman
Peralatan mandi
Kantong sampah
Senter
Toilet paper
Korek api
Pisau serba guna
Peralatan Kelompok
Tenda
Kompor
Bahan bakar
Alat penerangan
Accecories Pelindung
Rain cover bag
Bandana
Dompet
Lain – lain
Camera
Catatan kecil dan pena
Baterai cadangan
BAB II
PENGENALAN SURVIVAL
Survival yang akan kami bahas disini adalah survival dalam arti beberapa metode dalam beradaptasi dengan alam bebas, atau lebih dikenal dengan cara mempertahankan hidup di alam liar. Mungkin sebagian orang berpikir bahwa bab ini sudah tidak relevan lagi dengan keadaan sekarang yang serba ada dan serba praktis. Namun bagi para pendaki gunung tidak menutup kemungkinan jika suatu saat kita dihadapkan dengan keadaan yang mengharuskan kita harus survive. Kalau sudah terjadi seperti itu perlu dipertimbangkan beberapa point – point pokok yang harus di utamakan.
AIR
Saat berada di medan pendakian kebutuhan dasar kita adalah air, makanan, api dan tempat perlindungan. Diantara kebutuhan yang tertera diatas air adalah kebutuhan yang paling mendasar. Dari hasil analisa bahwa orang dewasa bisa bertahan selama tiga minggu tanpa makanan. Akan tetapi hanya sanggup bertahan selama tiga hari tanpa air. Jangan menunggu persediaan air habis baru mencarinya. Berhematlah dalam penggunaan air dan usahakan mencari sumber air bersih yang baru. Tubuh manusia kehilangan 3 – 4 liter air dalam setiap harinya. Melalui pernafasan, keringan dengan meningkatnya kerja otot dan temperature. Disamping itu muntah dan diare pun mengakibatkan kehilangan cairan tubuh. Dengan begitu cairan yang terbuang tersebut harus segera diganti dengan air ataupun cairan yang terkandung dalam makanan. Kekurangan cairanlah yang menyebabkan seorang survivor mengalami dehidrasi. Jika sudah mengalami dehidrasi maka akan muncul gejala gejala sebagai berikut:
- Air seni sedikit, berwarna gelap dengan bau yang cukup tajam.
- Mata cekung dan berwarna gelap.
- Mengalami kelelahan
- Emosi tidak stabil
- Kulit terasa kaku dan tidak elastis.
Untuk menghindari dehidrasi kita harus mengantisipasinya dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:
- Usahakan agar tubuh tetap terlindung dibawah bayangan, hindari terik matahari. Jika tidak ada tempat perlindungan buatlah tempat berlindung.
- Kurangi aktivitas, perbanyak istirahat dan jangan merokok.
- Jangan berbaring pada permukaan yang panas.
- Jangan terlalu sering makan, karena aktivitas pencernaan akan mengurangi
- Jangan banyak bicara dan tetap bernafas dengan hidung.
- Jangan minum alkohol karena alkohol mengurangi cairan didalam argan yang penting dan merusaknya.
Cara Menemukan Air
Carilah di daerah lembah dimana secara alami air mengalir. Apabila masih belum ditemukan maka carilah didaerah rumpun yang menghijau dan mulailah menggali. Menggali alur sungai juga memungkinkan menemukan sumber air. Perlu hati – hati jika menemukan danau atau telaga yang tidak ditumbuhi oleh tumbuhan hijau atau tidak ditemukan jejak binatang. Berarti area tersebut sudah tercemar. Cara lain menemukan air adalah dengan melakukan penyaringan embun atau air hujan.
Binatang Merupakan Sebagai Indikator Keberadaan Air.
Serangga
Lebah adalah salah satu indikator yang baik. Lembah terbang hampir 6,5 km dari sarangnya. Semut juga tergantung pada air. Lalat terbang hanya 90 m dari sumber air.
Burung
Burung-burung pemakan bijibijian tidak pernah terbang jauh dari sumber air. Jika burung tersebut terbang rendah lurus, pertanda bahwa burung tersebut menuju ke arah air, karena burung ini minum secara berkala lalu beristirahat. Tapi perlu diingat bahwa burung air tidak minum secara berkala, jadi tidak bisa dijadikan indikator keberadaan air.
Mamalia
Binatang pemakan rumput adalah spesies binatang yang membutuhkan air secara berkala. Binatang tersebut makan dan minum setiap pagi dan sore. Cobalah ikuti jalan setapak yang sering dilewati binatang tersebut, upaya ini kerap kali menuntun kita ke arah sumber air.
BIVAK
Bivak merupakan tempat perlindungan atau sering disebut shelter. Dalam mendirikan bivak semestinya bisa mengurangi dampak dari cuaca yang bisa menurunkan kondisi fisik seorang survivor. Perhatikan juga arah angin, hindari terpaan angin secara langsung. Hindari hal-hal berikut:
- Daerah terbuka menyebabkan terpaan angin secara langsung ke arah bivak.
- Dibawah satu batang pohon memungkinkan tersambar petir saat hujan.
- Dekat pohon yang mati, karena bisa tumbang saat diterpa angin.
- Sisi bukit juga banyan mengandung uap air.
GARAM
Tubuh manusia setiap harinya kehilangan zat asam dan kandungan garam. Setiap harinya rata-rata manusia membutuhkan garam sekitar 10 gram. Keringat dan air seni merupakan media yang menyebabkan kita kehilangan zat garam. Jadi Tidak ada salahnya untuk menaruh garam pada kotak survival kit.
Untuk menghindari kekurangan garam kita bisa mencegahnya dengan memperbanyak minum, makan makanan yang banyak mengandung garam. Jika sudah terjadi kekurangan garam maka biasanya akan muncul gejala perut kerampusing, mual-mual, dan badan terasa lemas. Untuk mengatasinya secepatnya minum air yang mengandung garam dengan porsi yang secukupnya. Karena jika kebanyakan bisa menyebabkan sakit perut atau kerusakan fungsi ginjal.
API
Api merupakan kebutuhan dasar bagi para pendaki. Karena dengan adanya api bisa memberikan kehangatan, memasak air dan makanan, membuat tanda sinyal keberadaan. Perlu diperhatikan pula dalam membuat pengapian karena api dapt menyebabkan kebakaran hutan. Mengingst sering terjadinya kebakaran hutan maka perlu kita perhatikan prinsip dasar pengapian. Pada prinsipnya api membutuhkan ruang kosong kandungan oksigen dan bahan dasar yang menjadi dimensi api.
Teknik Membuat Api Unggun.
1. Pada saat menemukan lokasi tanah yang banyak lumut dan berhumus maka bersihkan sampai kita menemukan tanah asli, baru kita mulai menyusun akayu bakar.
2. Jika kondisi tanah basah alternatifnya adalah membuat alas dengan batang kayu yang ditata rata,
BAB III
NAVIGASI
Peta adalah bagian yang tak terpisahkan dengan seorang navigator. Karena dengan petalah kita bisa bernavigasi. Akan tetapi jika tidak ada peta masih benyak alternatif lain yang bisa dilakukan untuk bernavigasi. Dengan berbasik navigasi seorang pendaki gunung akan merasa yakin dalam menempuh perjalanan pendakian. Hal itu juga akan memperkecil resiko tersesat jauh dari jalur pendakian.
PETA
Ditinjau dari definisi dan pengertianya, peta dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Disini yang akan kita bahas adalah peta topografi. Karena peta inilah yang nantinya akan banyak digunakan dlam kegiatan pendakian. Peta jenis ini juga banyak dipakai oleh militer. Peta topografi berisi tentang keadaan relief bumi, pemukiman, hutan, sungai dan jalan – jalan lainya. Keistimewaan peta topografi adalah dengan skala yang besar memungkinkan tingkat ketelitian dalam membaca posisi lebih akurat. Pada peta topografi selalu tercantum data pembuatanya karena sangat dibutuhkan untuk menghitung sudut variasi magnetisnya. Kutub magnetis peta topografi selalu berubah tiap tahunya karena pengaruh dari adanya rotasi bumi. Variasi magnetis sering disebut juga dengan istikah deklinasi. Hal ini yang nantinya akan selalu diperhatikan pada saat penggunaan peta dan kompass.
Membaca Skala Peta.
Skala peta merupakan perbandingan jarak 2 titik antara peta dengan jarak yang sebenarnya. Dalam melakukan orientasi lapangan perlu dicermati skala pea yang tercantum.
Sebagai contoh skala peta 1 : 50.000, artinya adalah pada jarak peta 1 cm maka jarak sebenarnya adalah 50.000 cm atau 500 meter.


